TINGKAT KEMISKINAN DI JAWA TENGAH
MAKALAH
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN
DI JAWA TENGAH
Oleh:
·
Hamzah Mizwar Fijar NPM
22117639
·
Sistem Komputer
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
kemiskinan dalam suatu negara biasanya sering dikaitkan dengan percepatan
pertumbuhan. Menurut Lincolin Arsyad (1997), banyak negara sedang berkembang
yang mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi pada tahun 1960-an mulai
menyadari bahwa ertumbuhan yang semacam itu hanya sedikit manfaatnya dalam
memecahkan masalah
kemiskinan. Banyak orang merasakan bahwa
pertumbuhan ekonomi yang tinggi gagal untuk mengurangi bahkan menghilangkan
besarnya kemiskinan absolut di Negara Sedang Berkembang (NSB). Dengan kata
lain, pertumbuhan GNP (Gross National Product) per kapita yang
cepat tidak secara otomatis meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bahkan,
pertumbuhan GNP per kapita dibeberapa negara yang sedang berkembang (seperti
India, Pakistan, Kenya) telah menimbulkan penurunan absolut dalam tingkat hidup
penduduk miskin baik di perkotaan maupun pedesaan.
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat
pendapatan, pendidikan, akses tehadap barang dan jasa, lokasi geografis, gender
dan kondisi lingkungan.
Tabel
1.1
Tingkat
Kemiskinan di Provinsi
Jawa Tengah Tahun 2006-2012
Usaha pemerintah dalam
penanggulangan masalah kemiskinan sangatlah serius, terutama di Provinsi Jawa
Tengah. Hal ini terlihat dari tingkat kemiskinan yang mengalami penurunan dari
tahun 2006-2012. Keberhasilan provinsi Jawa Tengah dalam menanggulangi
kemiskinan belum sepenuhnya berhasil. Ini terlihat dari tingkat kemiskinan yang
masih relatif tinggi, yaitu angka diatas hard core atau diatas 10
persen. Kemiskinan ini disebabkan oleh faktor-faktor pertumbuhan ekonomi, upah
minimum, pendidikan, dan tingkat pengangguran yang tinggi. Faktor-faktor ini
dapat digunakan sebagai acuan bagi tiap pemerintah kabupaten/kota dalam usaha
mengatasi kemiskinan.
BAB II
2.1 PEMBAHASAN
A. Definisi
Kemiskinan
Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin”
mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak mencukupi kebutuhan) atau
bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat miskin. Secara
Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat dengan masalah
konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya
dilihat dari interaksi
negatif (ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang
diperoleh.
Kemiskinan juga dapat diartikan sebagai
suatu keadaan dimana seseorang tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari atau bisa dikatakan dengan suatu kondisi serba kekurangan dalam
arti minimnya materi yang dimana mereka ini tidak dapat menikmati fasilitas
pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia
pada jaman modern.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, maka perkembangan arti definitif dari pada kemiskinan adalah sebuah
keniscayaan. Berawal dari sekedar ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi
dasar dan memperbaiki keadaan hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan
komponen-komponen sosial dan moral. Misal, pendapat yang diutarakan oleh Ali
Khomsan bahwa kemiskinan timbul oleh karena minimnya penyediaan lapangan kerja
di berbagai sektor, baik sektor industri maupun pembangunan. Senada dengan
pendapat di atas adalah bahwasanya kemiskinan ditimbulkan oleh ketidakadilan
faktor produksi, atau kemiskinan adalah ketidakberdayaan masyarakat terhadap
sistem yang diterapkan oleh pemerintah sehingga mereka berada pada posisi yang
sangat lemah dan tereksploitasi. Arti definitif ini lebih dikenal dengan
kemiskinan struktural.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga
pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural.
Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada
di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum:
pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin
relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di
bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat
dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha
memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang
membantunya.
B. Indikator-Indikator
Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi
kita untuk menelusuri secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut.
Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat
Statistika, antara lain sebagai berikut :
1. Ketidakmampuan
memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan dan papan).
2. Tidak adanya akses
terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air
bersih, dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan
masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap
goncangan yang bersifat individual maupun massa.
5. Rendahnya kualitas
sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi
dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses
dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk
berusaha karena cacat fisik maupun mental.
9. Ketidakmampuan dan
ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah
tangga, janda miskin, kelompok marginal dan terpencil).
C. Faktor-Faktor
Penyebab Kemiskinan
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan
bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alami
terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang
rendah dan bencana alam. Kemiskinan buatan diakibatkan oleh imbas dari para
birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas
yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut
kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan
pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Di bawah ini beberapa penyebab kemiskinan
menurut pendapat Karimah Kuraiyyim, yang antara lain adalah:
1. Merosotnya standar
perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang
penting digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita
bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau
produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik.
Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan
per-kapita akan turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi
kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
· Naiknya
standar perkembangan suatu daerah.
· Politik
ekonomi yang tidak sehat.
· Faktor-faktor
luar negeri, diantaranya:
1) Rusaknya
syarat-syarat perdagangan
2) Beban
hutang
3) Kurangnya
bantuan luar negeri, dan
4) Perang
2. Menurunnya etos kerja
dan produktivitas masyarakat
Terlihat jelas faktor ini sangat urgent dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan oleh
. karena itu,untuk menaikan etos kerja dan produktivitas masyarakt harus di dukung
dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidika yang bisa
dipertanggungjawabkan dengan maksimal.
. karena itu,untuk menaikan etos kerja dan produktivitas masyarakt harus di dukung
dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidika yang bisa
dipertanggungjawabkan dengan maksimal.
3. Biaya kehidupan yang
tinggi
Melonjak
tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak
adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah
konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga
kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran
.
adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah
konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga
kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran
.
4. Pembagian
subsidi in come pemerintah yang kurang merata
Hal ini
selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan
untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga.
Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga.
Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
Selain
itu, ada juga penyebab utama lain dari timbulnya kemiskinan ini, diantaranya :
§ Terbatasnya kecukupan
dan mutu pangan
§ Terbatasnya akses serta
rendahnya mutu layanan kesehatan, pendidikan, dan sempitnya
lapangan pekerjaan
lapangan pekerjaan
§ Kurangnya pengawasan
serta perlindungan terhadap asset usaha
§ Kurangnya penyesuaian
terhadap gaji upah yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan seseorang
dilakukan seseorang
§ Memburuknya kondisi
lingkungan hidup dan sumberdaya alam
§ Besarnya beban
kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga.
§ Tata kelola
pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam
pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.
pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.
D. Perkembangan
Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Laporan Bank Pembangunan Asia (ADB)
menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir keadaan kemiskinan di Indonesia
semakin memburuk. Hal ini diduga karena pesatnya pertumbuhan penduduk yang
tidak seimbang dengan meningkatnya Gross Domestic Product (GDP) dan atau
disebabkan semakin luasnya kesenjangan social.
Hingga kini kemiskinan merupakan
problematika kemanusiaan yang menjadi isu sentral di Indonesia. Lebih dari 110
juta orang Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari.
Jumlah ini sama dengan jumlah penduduk Malaysia, Vietnam, dan Kamboja jika
digabungkan. Sebagian besar penduduk miskin di Asia Tenggara tinggal di
Indonesia.
Kemiskinan menjadi alasan rendahnya Human Development Index (Indeks
Pembangunan Manusia) Indonesia. Secara menyeluruh, kualitas manusia Indonesia
relatif sangat rendah jika dibandingkan dengan kualitas manusia di
negara-negara lain di dunia. United Nations Development Programme (UNDP)
menempatkan HDI Indonesia di peringkat 124 dari 187 negara pada tahun 2011. Di
tahun yang sama, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30 juta orang, sebesar
37% dari jumlah tersebut berada di daerah perkotaan dan 63% di daerah pedesaan.
Kemiskinan menyebabkan jutaan rakyat
memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan secara terbatas, membuat
anak-anak tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, kesulitan membiayai
kesehatan, kurangnya kemampuan untuk menabung dan berinvestasi, minimnya akses
ke pelayanan publik, kurangnya lapangan pekerjaan dan jaminan sosial, serta
menguatnya arus urbanisasi ke kota.
E. Tantangan
Kemiskinan di Indonesia
Masalah kemiskinan di Indonesia sarat sekali
hubungannya dengan rendahnya tingkat Sumber Daya Manusia (SDM). dibuktikan oleh
rendahnya mutu kehidupan masyarakat Indonesia meskipun kaya akan Sumber Daya
Alam (SDA). Sebagaimana yang ditunjukkan oleh rendahnya Indeks Pembangunan
Masyarakat (IPM) Indonesia pada tahun 2002 sebesar 0,692. yang masih menempati
peringkat lebih rendah dari Malaysia dan Thailand di antara negara-negara
ASEAN. Sementara, Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) Indonesia pada tahun yang sama
sebesar 0,178. masih lebih tinggi dari Filipina dan Thailand. Selain itu,
kesenjangan gender di Indonesia masih relatif lebih besar dibanding negara
ASEAN lainnya.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan antara
desa dan kota. Proporsi penduduk miskin di pedesaan relatif lebih tinggi
dibanding perkotaan. Data Susenas (National Social Ekonomi Survey) 2004
menunjukkan bahwa sekitar 69,0 % penduduk Indonesia termasuk penduduk miskin
yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Selain itu juga tantangan yang
sangat memilukan adalah kemiskinan di alami oleh kaum perempuan yang
ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peranan wanita, terjadinya tindak
kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih rendahnya angka pembangunan
gender (Gender-related Development Indeks, GDI) dan angka Indeks pemberdayaan
Gender(Gender Empowerment Measurement,GEM).
Tantangan selanjutnya adalah otonomi daerah.
di mana hal ini mempunyai peran yang sangat signifikan untuk mengentaskan atau
menjerumuskan masyarakat dari kemiskinan. Sebab ketika meningkatnya peran
keikutsertaan pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan. maka tidak
mustahil dalam jangka waktu yang relatif singkat kita akan bisa mengentaskan
masyarakat dari kemiskinan pada skala nasional terutama dalam mendekatkan
pelayanan dasar bagi masyarakat. Akan tetapi ketika pemerintah daerah kurang
peka terhadap keadaan lingkungan sekitar, hal ini sangat berpotensi sekali
untuk membawa masyarakat ke jurang kemiskinan, serta bisa menimbulkan bahaya
laten dalam skala Nasional.
F. Kebijakan
dan Program Penuntasan Kemiskinan
1) Penanganan Masalah
Kurang Gizi dan Kekurangan Pangan
Penanganan masalah kurang gizi dan kekurangan pangan meliputi:
· Perbaikan
gizi masyarakat dengan kegiatan prioritas: penanggulangan kurang energi
protein, anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium, kurang vitamin A, dan
zat gizi mikro lainnya pada rumah tangga miskin.
protein, anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium, kurang vitamin A, dan
zat gizi mikro lainnya pada rumah tangga miskin.
· Peningkatan
ketahanan pangan dengan kegiatan prioritas: penyaluran beras
bersubsidi untuk keluarga miskin.
bersubsidi untuk keluarga miskin.
2) Perluasan Kesempatan
Masyarakat Miskin Atas Pendidikan
Perluasan kesempatan masyarakat miskin atas pendidikan meliputi kegiatan
prioritas
sebagai berikut :
sebagai berikut :
· Penyediaan
bantuan operasional sekolah untuk SD, SMP, Pesantren Salafiyah, dan
satuan pendidikan non Islam setara SD dan SMP.
satuan pendidikan non Islam setara SD dan SMP.
· Beasiswa
siswa miskin jenjang SMA.
· Pengembangan
pendidikan untuk dapat membaca.
3) Perluasan kesempatan
masyarakat miskin atas kesehatan
Perluasan kesempatan masyarakat miskin atas kesehatan meliputi kegiatan
prioritas
sebagai berikut :
sebagai berikut :
· Pelayanan
kesehatan penduduk miskin di Puskesmas
· Peningkatan
sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar terutama di daerah
perbatasan, terpencil, tertinggal, dan kepulauan.
perbatasan, terpencil, tertinggal, dan kepulauan.
· Peningkatan
pelayanan kesehatan rujukan terutama untuk penanganan penyakit
menular dan berpotensi wabah, pelayanan kesehatan ibu dan anak, gizi buruk dan
pelayanan ke gawat darurat.
menular dan berpotensi wabah, pelayanan kesehatan ibu dan anak, gizi buruk dan
pelayanan ke gawat darurat.
· Pelatihan
teknis bidan dan tenaga kesehatan untuk mengurangi tingkat kematian pada
kelahiran.
kelahiran.
4) Perluasan Kesempatan
Berusaha
Perluasan kesempatan berusaha meliputi peningkatan dukungan pengembangan usaha
bagi
masyarakat miskin dengan kegiatan pokok:
masyarakat miskin dengan kegiatan pokok:
· Percepatan
pelaksanaan pendaftaran tanah rumah tangga miskin.
· Penasehat
penataan hak kepemilikan dan sertifikasi lahan petani.
· Penyediaan
sarana dan prasarana untuk usaha.
· Pelatihan
ketrampilan untuk menjalankan usaha.
· Peningkatan
pelayanan koperasi sebagai modal usaha
Upaya penanggulangan kemiskinan Indonesia
telah dilakukan dan menempatkan penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas
utama kebijakan pembangunan nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 dan dijabarkan lebih rinci
dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun serta digunakan sebagai acuan
bagi kementrian, lembaga dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan
tahunan.
Sebagai wujud gerakan bersama dalam
mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan pembangunan Milenium, Strategi
Nasional Pembangunan Kemiskinan (SPNK) telah disusun melalui proses
partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan di Indonesia.
Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah membentuk Komite
penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) dan menyusun Strategi Penanggulangan
Kemiskinan Daerah (SPKD) sebagai dasar arus utama penanggulangan kemiskinan di
daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan.
Adapun langkah jangka pendek yang
diprioritaskan antara lain sebagai berikut:
· Mengurangi
kesenjangan antar daerah dengan; (i) penyediaan sarana-sarana irigasi, air
bersih
dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih. (ii) pembangunan jalan,
jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal. (iii) redistribusi sumber dana kepada daerah-
daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK).
dan sanitasi dasar terutama daerah-daerah langka sumber air bersih. (ii) pembangunan jalan,
jembatan, dan dermaga daerah-daerah tertinggal. (iii) redistribusi sumber dana kepada daerah-
daerah yang memiliki pendapatan rendah dengan instrumen Dana Alokasi Khusus (DAK).
· Perluasan
kesempatan kerja dan berusaha dilakukan melalui bantuan dana stimulan untuk
modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
modal usaha, pelatihan keterampilan kerja dan meningkatkan investasi dan revitalisasi industri.
· Khusus
untuk pemenuhan sarana hak dasar penduduk miskin diberikan pelayanan antara
lain
(i) pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi
murid yang kurang mampu (ii) jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di
puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.
(i) pendidikan gratis sebagai penuntasan program belajar 9 tahun termasuk tunjangan bagi
murid yang kurang mampu (ii) jaminan pemeliharaan kesehatan gratis bagi penduduk miskin di
puskesmas dan rumah sakit kelas tiga.
Di bawah ini merupakan contoh dari upaya mengatasi kemiskinan di Indonesia
:
Contoh dari upaya kemiskinan adalah di
propinsi Jawa Barat tepatnya di Bandung dengan diadakannya Bandung Peduli yang
dibentuk pada tanggal 23 – 25 Februari 1998. Bandung Peduli adalah gerakan
kemanusiaan yang memfokuskan kegiatannya pada upaya menolong orang kelaparan,
dan mengentaskan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam
melakukan kegiatan, Bandung Peduli berpegang teguh pada wawasan kemanusiaan,
tanpa mengindahkan perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, ataupun haluan
politik.
Oleh karena sumbangan dari para dermawan
tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan permasalahan kelaparan dan
kemiskinan yang dihadapi, maka Bandung Peduli melakukan targetting dengan
sasaran bahwa orang yang dibantu tinggal di Kabupaten/ Kotamadya Bandung, dan
mereka yang tergolong fakir. Golongan fakir yang dimaksud adalah orang yang
miskin sekali dan paling miskin bila diukur dengan “Ekuivalen Nilai Tukar
Beras”.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah yang telah diuraikan di atas,
dapat disimpulkan bahwa masalah dasar pengentasan kemiskinan bermula dari sikap
pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian
bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan
pun akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya
kewajiban dari pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa
penyakit sosial ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan
masyarakat.
3.2 Saran
Adapun saran
yang dapat penulis sampaikan adalah:
1. Pemerintah sebaiknya
menjalankan program terpadu secara serius dan bertanggung jawab agar dapat
segera mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia
2. Sebagai warga negara
Indonesia yang baik, mari kita dukung semua program pemerintah dengan
sungguh-sungguh demi masa depan bangsa dan negara Indonesia terbebas dari
kemiskinan.
3. Marilah kita
tingkatkan kepedulian dan kepekaan sosial untuk membantu saudara kita yang
masih mengalami kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA
http://litamardiana.blogspot.co.id/2012/11/masalah-kemiskinan-di-indonesia.html
http://yulliasurriaunnes.blogspot.co.id/2012/07/permasalahan-sosial-makalah-kemiskinan.html
https://lasonearth.wordpress.com/makalah/makalah-kewarganegaraan-kemiskinan/
https://appifrend.wordpress.com/2011/12/25/makalah-masalah-kemiskinan-dan-penanggulangannya/
Comments
Post a Comment